Kamis, 08 Oktober 2009

Realita kehidupan cinta anak manusia

Tanpa mengulang paparan definisi, dongeng putri raja, kata-kata mutiara, nasihat, saran dan tips jatuh cinta picisan yang sering kalian baca di berbagai media, penulis akan membicarakan cinta dalam aplikasinya yang luas, meskipun secara khusus masih berkiblat pada filosofi: cinta untuk kehidupan, diri sendiri, manusia lain, dan suatu ke-Ilahi-an spiritual.

Cinta bukan hanya penamaan suatu keadaan yang “terlihat” seperti keadaan yang dianjurkan masyarakat, karena –- seperti pada layaknya yel-yel posmodernisme - lagi-lagi itu hanyalah fragmentasi dari sebuah kepribadian massal, tanpa memperhatikan identifikasi personal manusia.

Mungkin.

Atau mungkin saja cinta adalah esensi tersendiri yang menjadi polarisasi esensi manusia. Suatu kutub yang menegaskan garis horizontal dan vertikal kemanusiaan kita.

Cinta itu akan menjadi diri. Dinta itu sendiri bukan keadaan dimana kita berada dalam cinta ketika melakukan tindakan-tindakan yang terasosiasikan dengannya, dan tidak lagi berada dalam cinta ketika kita berhenti melakukan tindakan-tindakan tersebut.

Walaupun begitu, cinta akan memberikan kekuatan untuk melakukan suatu tindakan.

Louis Leahy, dalam bukunya:

Seperti ada bahaya untuk mengacaukan pengetahuan dan cinta, maka juga ada risiko bahwa orang akan menganggap, gerakan-gerakan atau tindakan-tindakan yang biasanya mengekspresikan cinta sebagai cinta itu sendiri. Oleh karena terus menerus dikatakan dan diulangi bahwa “cinta” membuktikan diri dalam perbuatan-perbuatannya, orang sampai lupa bahwa cinta mendahului perbuatan-perbuatan dan terdapat di dalam subyek.

Lalu apakah cinta yang bukan semata-mata tindakan atributif?

Cinta adalah keterpenuhan; suatu ambivalensi dan ambiguitas refleksi rasa positif (jatuh cinta, senang, dsb) dan refleksi rasa negatif (marah, sedih, dsb). Seorang manusia yang benar-benar mampu mencintai akan lebih mengharapkan suatu keterpenuhan rasa, dibandingkan perasaan positif yang mutlak tanpa henti. Seorang manusia yang benar-benar mampu mencintai, dianalogikan sebagai kemampuan dirinya untuk menangis sambil tertawa, dan tertawa sambil menangis.

Keterpenuhan ini akan menimbulkan “rasa haru”, yang secara filosofis dijelaskan Jean Lacroix sebagai intensitas diri yang hidup. Atau merasakan diri hidup secara intensif: feeling alive, not just being alive.

cinta memiliki keindahan estetika (pada esensi) yang sama dengan rasa Pencerahan dan rasa Bahagia. cinta adalah hak istimewa manusia yang berkuasa atas suatu pilihan hidup.

Karena hanya manusia yang telah mencapai kesatuan jati diri dan kemandirian tersebut, adalah manusia yang sanggup memahami apa yang dinamakan kebahagiaan sebagai pencerahan rasa dan pikiran. Pada saat itu, seorang manusia sanggup melakukan suatu dekontruksi atribut, struktur dogmatis, dan segala kepalsuan atau kepura-puraan dalam hidupnya.

Untuk apa? Tentu saja untuk menemukan apapun yang absolut, dan tak dapat didekonstruksikan.

Jika cinta (dalam manusia) memiliki tujuan absolut yaitu Kebahagiaan, maka manusia butuh untuk menelaah sedalam-dalamnya kebenaran dari makna Kebahagiaan. Mungkin Erich Fromm bisa membantu kita sedikit dengan pernyataannya:

Kebahagiaan adalah indikasi bahwa manusia telah menemukan jawaban dari masalah eksistensi manusia: realisasi produktif dari potensi-potensinya dan juga, secara simultan, menjadi satu dengan dunia dan melindung integritas dirinya sendiri.

Dalam menghabiskan energinya secara produktif, dia meningkatkan kekuasaannya, dia membakar tanpa menjadi terbakar.

Kebahagiaan adalah kesempurnaan dalam seni kehidupan. Dari kebajikan dalam memaknainya, ia memiliki etika-etika kemanusiaan.

Tidak semua orang berpikir optimis mengenai cinta, contohnya Nietszche yang berkata bahwa pencarian terhadap cinta adalah tipikal para budak yang tidak dapat berjuang untuk apa yang mereka inginkan dan karenanya, mencoba untuk memperolehnya lewat “cinta”. Ia juga menyatakan bahwa altruisme dan cinta terhadap umat manusia adalah tanda dari degenerasi, dan mencintai orang lain hanya akan menjadi sebuah kebajikan ketika keluar dari batin, tetapi akan menjadi sangat menjijikkan jika semata-mata ungkapan dari ketidakmampuan untuk menjadi dirinya sendiri.

Meskipun begitu, sarkasme Nietszche tidak selalu berarti suatu penanda pesimisme. Nietzsche terkenal dengan gaya berfilsafatnya yang cenderung reaktif dengan apa yang terlihat pada masanya.

Niezsche mungkin bisa dianalogikan sebagai seseorang yang sedang patah hati, namun itu tidak berarti ia tidak memiliki rasa cinta yang besar dalam hidupnya. Lagipula reaksi emosi yang positif, stagnan, tanpa henti, adalah suatu kecacatan neurosis. Dan bukan “manusia”.

Lalu, mungkinkah masa yang dialami Nietszche tersebut terulang kembali?

Apakah kita sedang berada di dalam konsep cinta yang semu?

Erich Fromm, sekian puluh tahun yang lalu telah menulis: Kesulitan yang lain adalah yaitu tidak ada satu katapun dalam kekayaan bahasa kita, yang telah sangat begitu disalahgunakan dan dilacurkan seperti kata cinta.

Ia menjelaskan, terdapat dua fenomena yang berhubungan satu sama lainnya dan kadang-kadang dipresentasikan sebagai cinta (namun bukan cinta itu sendiri) : cinta masokis dan cinta sadistis. cinta masokistis, adalah ketika seseorang menyerahkan dirinya sendiri, inisiatif dan integritasnya, dengan maksud menjadi sepenuhnya tenggelam dalam diri manusia lain (atau hal lain) yang merasa lebih kuat. Ada kecemasan karena tidak merasa mampu berdiri di atas kakinya sendiri hingga harus menjadi bagian dari manusia lain (atau hal lain), agar terbebas dari perasaan tersebut; cinta sadistis, berasal dari hasrat untuk terlepas dari genggaman manusia lain (atau hal lain) dan menemukan kekuatannya dalam keadaan itu. Kekuatan dan keamanan yang dicari dan dimiliki akan serta merta memberikan kekuasaan atas orang lain.

Keduanya, cinta masokistis dan sadistis, merupakan ungkapan kebutuhan dasar manusia yang muncul dari sebuah ketidakmampuannya menjadi mandiri. Seringkali dalam hubungan jangka panjang, peran respektif menjadi permanen: seorang pasangan merepresentasikan sadistis, pasangan yang lainnya merepresentasikan kutub masokistis dalam sebuah pola hubungan simbiotik. Seringkali peran-peran tersebut bergerak secara konstan: sebuah lingkaran untuk pendominasian dan kepatuhan agar tetap dianggap sebagai cinta.

So, are you the chicken or the pig in this bacon and egg relationship?

Sadistis, masokistis, bukankah itu cinta? Untuk menikmati dan menderita dengan segala hasrat manusiawinya?

Tidak. Ketika seseorang belum terlepas dari kecemasan, ketidakmandirian, keterbatasan, dan ketakutan bahkan kebencian pada dirinya sendiri, atau bahkan ia belum menyadari dirinya dalam keadaan tersebut, maka ia belum dapat meyakini fenomena tersebut sebagai cinta dalam arti sesungguhnya.

Manusia yang masih berada dalam representasi semu tersebut, biasanya menganggap kemandirian pola pikir dan pola rasa manusia dalam mencari kebenaran cinta hanyalah labirin tikus yang menyebalkan.

Namun, benar. cinta adalah keterpenuhan rasa untuk menikmati dan menderita dengan segala hasrat manusiawi, dengan dilandasi kemandirian, kebebasan dan kesetaraan.Lalu mengapa kemandirian pola pikir dan pola rasa? Mengapa manusia perlu mendapatkan eksistensi akan diri terlebih dahulu, sebelum menjadikan cinta sebagai bagian dari esensi?

Agar terlepas dari ilusi representasi cinta itu sendiri: sesuatu yang menjijikkan, menurut Nietzsche.

Ketika seseorang, secara internal, tidak merasa nyata dalam tempurung pengakuan sosial, kelembutan, keyakinan, pujian, rasa aman, dan kecintaan diri, dari dirinya sendiri. Ia akan mencarinya dengan menjadi bagian dari eksistensi eksternal.

Mari kita analogikan rutinitas tindakan cinta itu sebagai hasil formalisasi masyarakat akan arus libido yang besar. Freud mengibaratkan libido seperti arus sungai besar, namun tertutup di hulu, karena tekanan yang besar tersebut maka terbentuk anak-anak sungai sebagai pelepasannya. Jika Freud mengharafiahkan sungai besar libido sebagai hasrat seksual itu sendiri, Penulis berpendapat bahwa hasrat seksual itu semata-mata sebagai salah satu anak sungai. Libido disini adalah hasrat manusia untuk berafeksi dengan eksistensi dirinya, dunianya dan keterpenuhan psyche itu sendiri: to fight, to flight, to love.

Manusia akan selalu bersama driving force-nya. Dahulu kala, driving force tersebut telah menyanggupi manusia untuk berburu binatang yang jauh lebih kuat darinya, membangun istana, candi bahkan tembok-tembok besar, atau menjadi nabi dan menyebarkan dialektika mengenai ketuhanan.

Driving force manusia telah berevolusi hingga teramat sekian rumitnya masa kini. Sedemikian rumit, karena sedemikian banyak anak-anak sungai yang terbentuk. Semakin besar kapasitas kita untuk mencintai, semakin kita ingin melumpuhkannya dengan melakukan hal-hal yang insignifikan berhadapan dengan pola rasa. Insignifikansi bertopeng reward, tentunya.

Evolusi untuk menjadi lebih rumit, atau lebih bodoh?

Erich Fromm menyatakan bahwa hambatan lain yang masih ada dalam mencintai kehidupan adalah semakin meningkatnya pembirokrasian dalam aktivitas-aktivitas kita. Fakta yang paling esensial, adalah bahwa demi efisiensi ekonomi yang maksimal, kita cenderung memotong setiap individu dari ukuran asli sehingga memungkinkannya untuk menjadi suatu kelompok; efisien, disiplin, tetapi bukan karena dirinya sendiri; tidak sepenuhnya hidup, dan karenanya terlumpuhkan dalam kapasitasnya untuk mencintai kehidupan.

Apakah cinta itu akan selamanya tertidur dalam suatu pembirokrasian yang efisien dan disiplin: kemegahan nisannya?

Manusia mungkin telah melupakan bahwa suatu atribusi “yang dinamakan” bukanlah entitas itu sendiri.

Penulis akhiri wacana ini dengan kutipan yang mana bagi penulis adalah alinea-alinea terbaik dari seorang Erich Fromm:

Satu pertanyaan tidak boleh diabaikan: Anda mungkin cemas apakah semakin orang mencintai kehidupan maka semakin orang itu menderita dari serangan tentang kebenaran, kecantikan, integritas dan kehidupan, terutama untuk saat ini?

Tapi, untuk menyelamatkan diri sendiri dan rasa sakit dengan menjadi tidak peduli dengan kehidupan, hanya menghasilkan rasa sakit yang lebih besar. Setiap orang yang benar-benar tertekan dapat mengatakan kepada Anda, untuk merasa sedih akan menjadi sebuah kelegaan daripada tidak mempunyai perasaan apa-apa. Kebahagiaan bukanlah hal yang penting dalam kehidupan, tapi gairah hidup. Menderita bukanlah hal yang terburuk dalam kehidupan, tapi ketidakpeduliannya.

Jika kita tidak merasakan apa-apa, berarti kita dibodohi. Sejauh dalam peradaban manusia, menderita selalu menjadi bidan perubahan. Haruskan, untuk pertama kalinya, ketidakpedulian menghancurkan kapasitas manusia untuk mengubah takdirnya?.

Cinta adalah suatu esensi.
Suatu kesatuan estetika. Suatu kesatuan eksistensi. Yang menjadi diri.

1 komentar:

Gayuh Coy mengatakan...

beginilah cinta deritanya tiada berakhir hehehehehe