Senin, 24 Januari 2011

Ketidakberdayaan Manusia Diantara Bencana & Kematian

"Bencana dan kematian adalah realita yang tak terbantahkan!”

Bencana dan kematian, suatu realita yang menjelaskan tentang adanya
penderitaan riil dalam kehidupan. Dan ternyata kehidupan tidak hanya dilandaskan
pada realita “pembentuk” kebahagiaan dan kesedihan, tetapi ada esensi kronik
yang hadir diantara kebahagiaan dan kesedihan yang selalu dialami oleh manusia
itu sendiri; yaitu ketika kebahagiaan dan kesedihan itu tidak dapat terungkapkan
atau tergambarkan lagi oleh bahasa alamiahnya! Semua seakan merupakan suatu
aksioma dalam kehidupan, “tetapi itu adalah realitas! Realitas yang tak pernah
terbantahkan”, kata tuan Steghuis menjelang kematiannya. Atau, jikalau Faulkner
masih tetap bertahan hidup, maka iapun akan menegaskan dengan kemampuannya
mengintisarikan beberapa esai absurdis tentang bencana dan kematian tersebut.

Tetapi bencana dan kematian, tentunya memiliki bahasa alamiahnya juga yang
hendak disampaikan kepada manusia dan kehidupan, bahwasannya realita itu tak
akan terbantahkan oleh kepiawaian rasionalitas ataupun pengalaman transendental
manusia dalam menjajaki suatu “penaklukkan”. Ya, ketika alam sendiri-pun mampu
berpraksis dalam “penaklukkannya” terhadap kehidupan. Seakan alam “mampu
mendramatisir” kebahagiaan dan kesedihan itu sesuai dengan “kuasanya”. Terlebih
dari itu, ketika nilai tentang hidup dan kehidupan merupakan praksis dialektika
yang permanen dalam sejarahnya, bahkan ketika filsafat mendasari realita
kehidupan dan materialnya, tentu hukum dialektika telah hadir bersamanya, dan
sampai kapan-pun itu.

“Bagaimana manusia hidup mampu menyadari kehidupannya…”, kata Faulkner dalam
intisari pemikirannya. Atau Sade dengan berbagai tuduhan atheis terhadapnya,
mencoba untuk menjelaskan tentang relasi manusia, alam, dan kehidupan. Manusia
dan komunitas yang hidup lainnya, akan terus berupaya dengan segala kemampuannya
untuk menghindari atau memperlambat bencana dan kematian, sesuai dengan apa yang
diketahuinya. Walaupun bencana dan kematian akan selalu menghiasi sejarah
tentang kehidupan, tetapi hal itu menjadi ambigu ketika bayang-bayang imajiner
manusia selalu direposisi sebagai “alat penolakkan” terhadapnya.

Manusia korban dan yang “dikorbankan” terhadapnya (bencana dan kematian),
adalah esensi nyata bahwasannya kehidupan itu memiliki nilai-nilai dan artian
tertentu, yang mana segala multi-interpretasi berupaya untuk menjabarkan
nilai-nilai dan artian tersebut sesuai dengan kemampuan idenya. Walaupun pada
akhirnya ide tersebut menjadi semacam doktrin kepada manusia, tetapi hal itu
menegaskan bahwa bencana dan kematian adalah realita yang tak terbantahkan! Dan
manusia akan dikembalikan pada kesadarannya oleh satu hal dalam kehidupan, yaitu
esensi ketidakberdayaan.

Dan apakah kita harus berpasrah terhadapnya? Atau hanya menunggu dengan
keawasan batin, pikiran, dan beberapa keajaiban? Tentu manusia yang diselimuti
oleh ketidakberdayaannya, akan selalu berpraksis untuk mengatasi bencana dan
kematian sesuai dengan apa yang diketahuinya. Sehingga inovasi pemikiran akan
selalu bersamaan dengan perkembangan peradaban manusia, untuk menciptakan
alat-alat penyelamatan dan antisipasi terhadap bencana tersebut. Itulah
alat-alat dan penemuan teknologi. Tetapi hal itu bukanlah absolut, karena
ketidakberdayaan merupakan esensi pada realitas setiap diri manusia dan
kehidupannya, tentunya hal ini akan tercermin dari ketidakmampuannya untuk
menolak bencana dan kematian tersebut.

Setiap manusia dan kehidupan disekitarnya akan selalu berupaya terbebas dari
“ancaman” tersebut, lalu seringkali terjadi beberapa imajinasi “pengandaian” di
tengah ketidakberdayaan itu sendiri. Mungkin kita akan selalu terbebani oleh
beberapa bentuk “pengandaian” yang disampaikan didalamnya, karena “pengandaian”
tersebut tak ubahnya dengan “candu” yang diberikan kepada rasionalitas kita dan
seluruh masyarakat oleh “otoritas penanggung jawab masyarakat”. Karena otoritas
itu sendiri tidak mampu untuk mengatasi realitas ketidakberdayaan manusia
ataupun masyarakatnya. Lebih ironis, ketika bencana dan kematian itu seakan
telah “dicabut nilainya” oleh otoritas tersebut, dan dijadikan sebagai alat
“penundukkan” terhadap rasionalitas masyarakat. Sehingga masyarakat direproduksi
sebagai masyarakat ambigu dalam menghadapi bencana ataupun kematian tersebut.

Tidak ada komentar: