Selasa, 12 April 2011

CPAc imaging Pro 3.0.rar

CPAC merupakan salah satu program yang menyediakan fitur - fitur untuk Potret warping tool, yang berguna untuk mengubah ekspresi wajah secara alami, seperti mulut terbuka untuk satu tertutup, dagu yang sempit atau mata yang lebih luas. Bahkan menambahkan tersenyum.
Potret pewarnaan, yang menggunakan warna ke daerah abu-abu, mengubah setiap gambar B & W menjadi gambar true color.
Pengaturan warna kulit yang mencerahkan atau kulit nada, menambahkan berjemur sehat, atau mencerahkan daerah gelap atau bayangan pada wajah atau tubuh.
Tekstur kulit editing yang menghapus noda otomatis untuk menghilangkan bintik-bintik, tahi lalat, jerawat, tanda lahir, bahkan berat dapat mengurangi kerutan atau garis-garis gelap di sekitar mata.
Sikat alat yang memodifikasi dipilih daerah tanpa mengubah tekstur kulit.
Kemampuan lainnya termasuk perubahan pakaian, latar belakang dan pemandangan; lunak filter, nada sepia dan pencitraan.

Dengan menggunakan software CPAC, kita dapat dengan mudah untuk retouching potret profesional dan restorasi dalam waktu yang singkat. Program ideal untuk retrouch, memulihkan, memperbaiki, menyegarkan, memperbarui, meremajakan potret Anda. Retouching software untuk hasil Profesional ... luar biasa hanya dalam hitungan menit.

Kebutuhan Hardware Minimum:
  • 1 GHz Processor atau lebih baik
  • 512 MB ​​RAM atau lebih tinggi
  • Tampilan adaptor dan monitor dengan resolusi 800x600 atau lebih tinggi
  • Hard disk dengan 100 MB ruang bebas.
Download untuk kawan - kawan yang ingin mencoba berbagai fitur yang di sediakan software koleksi saya dalam mengedit foto atau gambar.

Rabu, 06 April 2011

Sabtu, 19 Maret 2011

Tribute to Chrisye

Biografi

Chrisye adalah seorang penyanyi pop Indonesia . Dan merupakan anak kedua dari 3 bersaudara dari pasangan L.Rahadi dan Hana dan sekarang mempunyai 4 orang anak,Anissa (perempuan) tahun 1983,Risty (perempuan) tahun 1986,Masha (laki-laki) tahun 1989,Pasha (laki-laki) tahun 1989 (Putra ke-3 dan ke-4, kembar)
Karir musiknya sudah dirintis sejak tahun 60-an melalui berbagai lagu hits dan album yang telah dikeluarkan. Bertambahnya umur tidak juga membuat penggemarnya berkurang, bahkan Chrisye m ampu membuktikan bahwa ia merupakan salah satu artis paling populer di Indonesia dan mampu bertahan selama 4 dekade.Sejumlah musisi hebat pernah diajaknya berkolaborasi. Diantaranya Guruh Soekarno Putra, Eros Djarot, James F. Sundah dan masih ada banyak lagi.

Setelah sempat tenggelam tidak menelurkan album baru, bersama Erwin Gutawa, Chrisye coba mengangkat kembali popularitasnya kala mendaur ulang album Badai Pasti Berlalu. Sebuah album soundtrack film Badai Pasti Berlalu yang menjulangkan namanya hingga kini sebagai penyanyi legendaris Indonesia.Kini setelah kurang lebih 25 tahun malang melintang di dunia musik, Chrisye yang telah perputra empat ini, tetap mempunyai vocal yang prima dan kehadirannya tetap dinantikan para penggemar setianya.

Sejarah sepanjang karir

Chrisye mulai bermusik ketika bergabung sebagai bassist dengan band Gipsy, ia lalu menjulang lewat lagu "Lilin-lilin Kecil" di sekitar tahun 1977 setelah bersolo-karir sebagai penyanyi. Beberapa lagunya yang populer adalah "Badai Pasti Berlalu", "Aku Cinta Dia", "Hip Hip Hura", "Nona Lisa", dan "Pergilah Kasih". Tahun 1995 , Chrisye memperoleh BASF Legend Award atas pengabdiannya terhadap musik Indonesia selama ini. Pada tahun 2002, ia meluncurkan album Dekade di mana dia menyanyikan kembali sejumlah lagu lama.

Sejak 31 Juli 2005 , Chrisye harus dirawat di rumah sakit di Singapura karena mengidap kanker paru-paru . Awalnya dalam pemeriksaan di Jakarta , dia disebut terkena infeksi paru-paru, namun ternyata pemeriksaan lebih lanjut di Singapura memberikan hasil bahwa penyakit yang dideritanya adalah kanker. Dari pernikahannya dengan Damayanti Noor, Chrisye memperoleh tiga orang anak. Chrisye meninggal dunia pada 30 Maret 2007 di Jakarta akibat sakit kanker paru-paru yang dideritanya.

Album :

1. Guruh Gipsy(1975)
2. Jurang Pemisah (1977)
3. Badai Pasti Berlalu (1977)
4. Sabda Alam (1978)
5. Percik Pesona (1979)
6. Puspa Indah Taman Hati (1980)
7. Pantulan Cinta (1981)
8. Resesi (1983)
9. Metropolitan (1984)
10. Nona (1984)
11. Sendiri (1985)
12. Aku Cinta Dia (1986)
13. Hip Hip Hura (1986)
14. Nona Lisa (1987)
15. Kisah Cintaku (1988)
16. Pergilah Kasih (1989)
17. Cintaku T'lah Berlalu (1991)
18. Sendiri Lagi (1993)
19. Akustichrisye (1996)
20. Kala Cinta Menggoda (1997)
21. Badai Pasti Berlalu (1999)
22. Konser 2001 (2001)
23. Dekade (2002)
24. Duet By Request (2006

Penghargaan:
1978 _ PENYANYI KESAYANGAN ANGKET ABRI
1979 _ 2 GOLDEN RECORD (Sabda Alam)
1983 _ SILVER RECORD (Resesi)
1984 _ SILVER RECORD (Metropolitan)
1985 _ SILVER RECORD (Sendiri)
1985 _ BASF AWARD (Sendiri)
1986 _ BASF AWARD (Aku Cinta Dia)
1986 _ GOLDEN RECORD (Aku Cinta Dia)
1986 _ BASF AWARD (Hip Hip Hura)
1986 _ SILVER RECORD (Hip Hip Hura)
1988 _ BASF AWARD (Kisah Cintaku)
1989 _ GOLDEN RECORD (Album Cinta Vina Panduwinata)
1989 _ HDX AWARD (Pergilah Kasih)
1989 _ BASF AWARD (Cintamu Telah Berlalu)
1993 _ VMI AWARD V (Video Klip Terbaik)
1994 _ BASF AWARD (Penyanyi Legendaris)
1997 _ AMI AWARD (Penyanyi Pop Pria Terbaik)
1998 _ ASIA VIEWER’S CHOICE AWARD (Video Klip Terbaik)
1998 _ AMI AWARD (Penyanyi Pop Pria Terbaik)
1998 _ Album Terbaik (Kala Cinta Menggoda)
1998 _ Produser Album Terbaik (Kala Cinta Menggoda)
1998 _ MENTERI PARIWISATA, SENI dan BUDAYA
2000 _ MTV (Best Male Singer)
2000 _ AMI SHARP AWARD (Penyanyi Pop Progresif Terbaik)
2000 _ AMI SHARP AWARD (Album Pop Progresif Terbaik)
2000 _ AMI SHARP AWARD (Penyanyi Rekaman Terbaik)
2000 _ AMI SHARP AWARD (Penata Musik Terbaik)
2000 _ Operator Rekaman Musik Kategori Penunjang Produksi
2000 _ KABAR KABARI (Artis Tak lekang Zaman)
2000 _ KOPI SUSU AWARD (Artis Terpopuler Pilihan Pemirsa)
2000 _ CLEAR TOP 10 (Funkiest Male Singer)
2001 _ PLANET MUZIK (Penyanyi Pria Terbaik)
2001 _ MTV Indonesia (Most Favorite Male)
2002 _ Platinum AWARD (album Badai Pasti Berlalu)
2002 _ Golden AWARD (album Konser Tur 2001)
2003 _ SCTV AWARD (LifeTime Achievement)
2003 _ AMI AWARD (Duet Terbaik bersama Sophia Latjuba)
2003 _ Platinum AWARD (album Dekade)
2004 _ Planet Muzik (LifeTime Achievement)
2004 _ Platinum Award (album Senyawa)
2005 _ BIMA DEVADTTA AWARD (Best Male)
2005 _ AMI AWARD (LifeTime Achievement)
2005 _ Golden AWARD (album Chrisye By Request)
2005 _ Golden AWARD (album From Us To U)
2006 _ PLANET MUZIK Kategori Album Terbaik (Senyawa)

Rabu, 16 Maret 2011

Kapal Laut Suku Bugis

Pinisi, adalah kapal layar tradisional khas asal Indonesia yang berasal dari Suku Bugis dan Suku Makassar di Sulawesi Selatan. Kapal Pinisi umumnya memiliki dua tiang layar utama dan tujuh buah layar, yaitu tiga di ujung depan, dua di depan, serta dua di belakang.

Ketika Anda berlayar di lautan Indonesia maka akan bertemu dengan salah satu kapal tradisional yang luar biasa ini. Kapal Pinisi telah berabad-abad berlayar hingga Malaka, Burma, Vietnam, dan Australia. Anda bisa melihat kapal tradisional tersebut bersandar di pelabuhan Paotere Makassar, di pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta, di dermaga Ujung Surabaya, di tempat pembongkaran kayu dari Kalimantan, bahkan di pelabuhan kecil Labuhan Bajo di Flores.

Kapal Pinisi umumnya digunakan untuk pengangkutan barang antar pulau di Nusantara. Orang Bugis dan Mandar yang berasal dari Sulawesi Selatan adalah pembuat kapal sekaligus pelayar yang handal. Kapal-kapal pinisi ini telah membawa orang Bugis berlayar di kepulauan Nusantara hingga Jawa, Kalimantan, Sumatra, Papua, dan kepulauan Nusa Tenggara. Orang Bugis tidak hanya dikenal sebagai pembuat kapal yang handal tapi juga sebagai bajak laut yang di takuti.

Abad ke-18 saat Belanda menjajah Nusantara, banyak kaum bangsawan berlayar ke Malaysia dan Kalimantan. Sultan Kutai di Kalimantan Timur serta Johor dan Selangor di Malaysia adalah keturunan Bugis. Daerah pedalaman orang Bugis asli berada di Luwu Teluk Bone.

Abad ke-13 dan 14 adalah masa berkembangnya Kerajaan Bugis. Salah satu hasil karya sastra terbesar orang Bugis lahir pada masa ini yaitu “I La Galigo”. Karya sastra ini berisi cerita asal muasal orang Bugis dengan tebal lebih dari 6,000 halaman. Termasuk di dalamnya tentang kapal Pinisi yang pertama sekali dibuat oleh Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai. Sawerigading berhasil ke negeri Tiongkok dan memperisteri Puteri We Cudai. Setelah beberapa lama tinggal di negeri Tiongkok, Sawerigading kembali kekampung halamannya dengan menggunakan Pinisinya ke Luwu. Menjelang masuk perairan Luwu kapal diterjang gelombang besar dan Pinisi terbelah tiga yang terdampar di desa Ara, Tanah Beru dan Lemo-lemo. Masyarakat ketiga desa tersebut kemudian merakit pecahan kapal tersebut menjadi perahu yang kemudian dinamakan Pinisi.

Kapal layar Bugis Pinisi beratnya 100-200 ton dan saat ini masih berperan penting sebagai angkutan tradisional dalam perdagangan antar pulau. Abad ke-19 Bugis Perahu pernah digunakan untuk mengangkut barang-barang dari Eropa dan Cina dari Singapura ke Dobo di pulau Aru di Nusatenggara Timur kemudian berhenti di dermaga terpencil di sepanjang jalur. Dari kepulauan Indonesia mereka mengumpulkan bulu-bulu burung surga, kayu cendana, rempah-rempah, emas, dan cabe. Mereka menjual barang-barang tersebut dengan harga yang tinggi di Singapura kepada pedagang Cina dan India.

Saat ini, Kapal layar Bugis Pinisi membawa sejumlah kargo kecil berisi kayu gelondongan, semen, ubin rumah, beras, gula, rokok, hingga sepeda motor untuk di jual di seluruh pulau.

Kapal layar tradisional Bugis Pinisi dilengkapi juga dengan peralatan tempat tinggal di laut untuk para penyelam. Kapal kokoh ini sekarang dilengkapi kabin, dapur, dan kamar mandi, juga peralatan ekspedisi menyelam ke Taman Komodo di Flores dan Taman Nasional Raja Ampat, dekat Sorong di Papua Barat.

Ada dua jenis kapal pinisi yaitu pertama Lamba atau lambo. Yaitu Pinisi modern yang masih bertahan sampai saat ini dan dilengkapi dengan motor diesel (PLM). Yang kedua adalah Palari, yaitu bentuk awal pinisi dengan lunas yang melengkung dan ukurannya lebih kecil dari jenis Lamda.

Sementara itu Kapal layar Bugis pinisi yang berukuran besar yang sekarang ini telah meniru kapal layar Barat abad ke-19. Selain itu juga merupakan versi besarnya dari perahu Bugis terdahulu, dikenal sebagai Perahu Patorni dan Padewakang.

Kapal pinisi yang merupakan salah satu kapal tradisional kebanggaan Indonesia dan memiliki keunikan dalam pembuatannya. Umumnya, seperti kapal-kapal di negara Barat, rangka kapal dibuat lebih dahulu baru dindingnya. Sedangkan kapal pinisi, pembuatannya dimulai dengan dinding dulu baru setelah itu rangkanya.

Kapal layar pinisi dapat Anda ditemukan di pantai selatan Sulawesi Selatan, berpusat di sekitar Bulukumba di Tana Beru. Di sini Anda dapat menyaksikan pembuatan kapal yang mengesankan dengan alat tradisional.

Konstruksi kapal Pinisia adalah gabungan pengetahuan dan pengalaman tradisional kuno disertai ritual yang ketat yang harus diikuti untuk memastikan keamanan di laut. Para pengrajin perahu ini harus menghitung hari baik untuk memulai pencarian kayu sebagai bahan baku. Biasanya jatuh pada hari ke lima dan ketujuh pada bulan yang berjalan. Angka 5 (naparilimai dalle'na) yang artinya rezeki sudah di tangan. Sedangkan angka 7 (natujuangngi dalle'na) berarti selalu dapat rezeki. Setelah dapat hari baik kemudian kepala tukang yang disebut "punggawa" memimpin pencarian.

Tidak ada rancangan atau catatan tertulis dalam kertas untuk membuat kapal Pinisi. Seorang punggawa telah semua detail rancangan Pinisi hanya di kepala mereka.

Meskipun para pengrajin kapal ini sering disebut sebagai orang Bugis, namun mereka dibagi menjadi empat sub suku. Keempatnya adalah Konjo di bagian selatan Sulawesi Selatan (Ara, Bira dan Tanah Biru), Mandar di Sulawesi Barat sampai bagian utara Makasar, Bugis di wilayah sekitar Wajo bagian timur Teluk Bone, dan Makassar di wilayah sekitar Kota Makasar. Di antara semua itu, Konjo adalah yang paling berpengaruh dalam pembuatan kapal pinisi.

Ekspedisi kapal Pinisi Indonesia yang terkenal adalah Pinisi Nusantara telah berlayar ke Vancouver, Kanada, memakan waktu 62 hari tahun 1986. Tahun 1987, ada lagi ekspedisi perahu Padewakang, "Hati Marige" ke Darwin, Australia, mengikuti rute klasik. Lalu Ekspedisi Ammana Gappa ke Madagaskar, terakhir pelayaran Pinisi Damar Segara ke Jepang.

Kegiatan

Jika kita berkunjung ke kota Makassar, sekitar 5 km perjalanan atau kurang lebih 10 menit dari pelabuhan maka akan Anda temukan sebuah pelabuhan tradisional yaitu Pelabuhan Paotere. Di sinilah Anda bisa jumpai banyak kapal Pinisi.

Di sekitarnya Anda dapat menggunakan becak untuk berkeliling menuju pelabuhan ini. Selama menyusuri jalanan Anda akan melihat kota tua Makasar dekat pelabuhan dan gerbang tol pelabuhan. Di pinggir tolnya akan dan temui juga perkampungan nelayan sebelum akhirnya sampai di pelabuhan Paotere.

Di Pelabuhan Paotere Anda akan menikmati pemandangan nelayan membawa hasil tangkapan laut sekaligus kegiatan mereka di pusat niaganya. Dekat pelabuhan ini juga Anda bisa berwisata kuliner makanan khas laut yang diracik dengan bumbu ala Makassar. Karenanya jangan lewatkan mengunjunginya.

Referensi:

  1. www.kastenmarine.com
  2. www.wikipedia.org
  3. www. jalanjalanterus.wordpress.com
  4. www.indonesia.travel


Badik Senjata Khas Bugis

Badik atau Badek merupakan pisau dengan bentuk khas yang dikembangkan oleh masyarakat Bugis dan Makassar. Badik bersisi tajam atau ganda, dengan panjang mencapai sekitar setengah meter. Seperti keris, bentuknya asimetris dan bilahnya kerap kali dihiasi dengan pamir. Namun demikian, berbeda dari keris, badik tidak pernah memiliki ganja (penyangga bilah)

Perihal Badik Senjata Masyarakat Bugis

Menurut pandangan orang Bugis Makassar, setiap jenis badik memiliki kekuatan sakti (gaib). Kekuatan ini dapat memengaruhi kondisi, keadaan, dan proses kehidupan pemiliknya. Sejalan dengan itu, terdapat kepercayaan bahwa badik juga mampu menimbulkan ketenangan, kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran ataupun kemelaratan, kemiskinan dan penderitaan bagi yang menyimpannya.

Sejak ratusan tahun silam, badik dipergunakan bukan hanya sebagai senjata untuk membela diri dan berburu tetapi juga sebagai identitas diri dari suatu kelompok etnis atau kebudayaan. Badik ini tidak hanya terkenal di daerah Makassar saja, tetapi juga terdapat di daerah Bugis dan Mandar dengan nama dan bentuk berbeda.

Secara umum badik terdiri atas tiga bagian, yakni hulu (gagang) dan bilah (besi), serta sebagai pelengkap adalah warangka atau sarung badik. Disamping itu, terdapat pula pamor yang dipercaya dapat memengaruhi kehidupan pemiliknya.

Badik makassar

Badik Makassar memiliki kale (bilah) yang pipih, battang (perut) buncit dan tajam serta cappa’ (ujung) yang runcing. Badik yang berbentuk seperti ini disebut Badik Sari. Badik Sari terdiri atas bagian pangulu (gagang badik), sumpa’ kale (tubuh badik) dan banoang (sarung badik). Lain Makassar lain pula Bugis, di daerah ini badik disebut dengan kawali, seperti Kawali Raja (Bone) dan Kawali Rangkong (Luwu).

Badik Bugis Luwu

Badik Bugis Kawali Bone memiliki bessi atau bilah yang pipih, ujung runcing dan bentuk agak melebar pada bagian ujung, sedangkan kawali Luwu memiliki bessi pipih dan berbentuk lurus. Kawali pun memiliki bagian-bagian, seperti pangulu (hulu), bessi (bilah) dan wanua (sarung). Seperti pada senjata tradisional lainnya, kawali juga dipercaya memiliki kekuatan sakti, baik itu yang dapat membawa keberuntungan ataupun kesialan.

Kawali Lamalomo Sugi adalah jenis badik yang mempunyai motif kaitan pada bilahnya dan dipercaya sebagai senjata yang akan memberikan kekayaan bagi pemiliknya. Sedangkan, kawali Lataring Tellu yang mempunyai motif berupa tiga noktah dalam posisi tungku dipercaya akan membawa keberuntungan bagi pemiliknya berupa tidak akan kekurangan makanan dan tidak akan mengalami duka nestapa. Itulah sebabnya, badik ini paling cocok digunakan bagi mereka yang berusaha di sektor pertanian.

Kul Buntet / Pusaran

Kawali Lade’ nateyai memiliki pamor berupa bulatan kecil pada bagian pangkal dan guratan berjajar pada bagian matanya. Badik ini dipercaya dapat mendatangkan rezeki yang melimpah bagi pemiliknya. Badik ini memiliki kemiripan fungsi dengan Kawali Lakadang yang memiliki motif berbentuk gala pada pangkalnya.

Salah satu badik yang dipercaya sangat ideal adalah Kawali Lagemme’ Silampa yang memiliki motif berupa urat yang membujur dari pangkal ke ujung. Dipercaya bahwa pemilik badik tersebut senantiasa akan mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan dalam kehidupannya bersama dengan segenap kaum kerabatnya. Sedangkan untuk mendapatkan kesabaran, maka dipercaya harus memiliki Kawali Lasabbara.

Kawali Ilakkoajang adalah jenis badik yang dipercayai sebagai senjata yang mampu mendatangkan wibawa serta derajat yang tinggi.Badik ini memiliki motif guratan di seluruh tubuhnya. Sementara itu, bagi yang menginginkan kemenangan dalam setiap pertarungan hendaknya memiliki Kawali Latenriwale. Badik yang memiliki motif berupa bulatan oval pada bagian ujungnya ini dipercaya dapat membangkitkan sifat pantang mundur bagi pemiliknya dalam setiap pertempuran.

Bila dipercaya terdapat badik yang mengandung kebaikan, demikian pun sebaliknya terdapat badik yang mengandung kesialan. Kawali Lasukku Ja’na adalah badik yang dianggap amat buruk. Bagi siapapun, Kawali Latemmewa merupakan badik yang sangat tidak baik, karena dipercaya badik ini tidak dapat menjaga wibawa dan kehormatan pemiliknya. Menurut kepercayaan, pemilik badik ini tidak akan melakukan perlawanan kendati ditampar oleh orang lain.

Sejalan dengan kepercayaan tersebut, terdapat Kawali Lamalomo Malaweng Tappi’enngi yang memiliki motif berupa guratan tanda panah pada bagian pangkalnya. Dipercaya, pemilik badik ini seringkali terlibat dalam perbuatan zina. Badik ini memiliki kepercayaan yang berlawanan dengan Kawali Lamalomo Rialawengeng. Konon kabarnya pemilik badik seperti ini seringkali istrinya melakukan perzinahan dengan lelaki lain.

Apapun kekuatan sakti yang dipercaya dikandung oleh sebuah badik, badik tetaplah sebuah benda budaya yang akan meningkatkan identitas diri seseorang, terutama bagi kaum lelaki. Seperti kata orang Makassar mengenai badik “Teyai bura’ne punna tena ammallaki badik” (Bukan seorang lelaki jika tidak memiliki badik), begitupun dengan kata orang Bugis “Taniya ugi narekko de’na punnai kawali" (Bukan seorang Bugis jika tidak memiliki badik).

Menurut pandangan orang Bugis Makassar, setiap jenis badik memiliki kekuatan sakti (gaib). Kekuatan ini dapat memengaruhi kondisi, keadaan, dan proses kehidupan pemiliknya. Sejalan dengan itu, terdapat kepercayaan bahwa badik juga mampu menimbulkan ketenangan, kedamaian, kesejahteraan dan kemakmuran ataupun kemelaratan, kemiskinan dan penderitaan bagi yang menyimpannya.Sejak ratusan tahun silam, badik dipergunakan bukan hanya sebagai senjata untuk membela diri dan berburu tetapi juga sebagai identitas diri dari suatu kelompok etnis atau kebudayaan.

Badik ini tidak hanya terkenal di daerah Makassar saja, tetapi juga terdapat di daerah Bugis dan Mandar dengan nama dan bentuk berbeda.Secara umum badik terdiri atas tiga bagian, yakni hulu (gagang) dan bilah (besi), serta sebagai pelengkap adalah warangka atau sarung badik. Disamping itu, terdapat pula pamor yang dipercaya dapat memengaruhi kehidupan pemiliknya.Badik Makassar memiliki kale (bilah) yang pipih, battang (perut) buncit dan tajam serta cappa’ (ujung) yang runcing. Badik yang berbentuk seperti ini disebut Badik Sari. Badik Sari terdiri atas bagian pangulu (gagang badik), sumpa’ kale (tubuh badik) dan banoang (sarung badik). Lain Makassar lain pula Bugis, di daerah ini badik disebut dengan kawali, seperti Kawali Raja (Bone) dan Kawali Rangkong (Luwu).

Badik Caringin Tilu

Badik Bugis Kawali Bone memiliki bessi atau bilah yang pipih, ujung runcing dan bentuk agak melebar pada bagian ujung, sedangkan kawali Luwu memiliki bessi pipih dan berbentuk lurus. Kawali pun memiliki bagian-bagian, seperti pangulu (hulu), bessi (bilah) dan wanua (sarung). Seperti pada senjata tradisional lainnya, kawali juga dipercaya memiliki kekuatan sakti, baik itu yang dapat membawa keberuntungan ataupun kesialan. Kawali Lamalomo Sugi adalah jenis badik yang mempunyai motif kaitan pada bilahnya dan dipercaya sebagai senjata yang akan memberikan kekayaan bagi pemiliknya. Sedangkan, kawali Lataring Tellu yang mempunyai motif berupa tiga noktah dalam posisi tungku dipercaya akan membawa keberuntungan bagi pemiliknya berupa tidak akan kekurangan makanan dan tidak akan mengalami duka nestapa. Itulah sebabnya, badik ini paling cocok digunakan bagi mereka yang berusaha di sektor pertanian.Kawali Lade’ nateyai memiliki pamor berupa bulatan kecil pada bagian pangkal dan guratan berjajar pada bagian matanya. Badik ini dipercaya dapat mendatangkan rezeki yang melimpah bagi pemiliknya. Badik ini memiliki kemiripan fungsi dengan Kawali Lakadang yang memiliki motif berbentuk gala pada pangkalnya.Salah satu badik yang dipercaya sangat ideal adalah Kawali Lagemme’ Silampa yang memiliki motif berupa urat yang membujur dari pangkal ke ujung. Dipercaya bahwa pemilik badik tersebut senantiasa akan mendapatkan keselamatan dan kesejahteraan dalam kehidupannya bersama dengan segenap kaum kerabatnya. Sedangkan untuk mendapatkan kesabaran, maka dipercaya harus memiliki Kawali Lasabbara.Kawali Ilakkoajang adalah jenis badik yang dipercayai sebagai senjata yang mampu mendatangkan wibawa serta derajat yang tinggi.Badik ini memiliki motif guratan di seluruh tubuhnya. Sementara itu, bagi yang menginginkan kemenangan dalam setiap pertarungan hendaknya memiliki Kawali Latenriwale. Badik yang memiliki motif berupa bulatan oval pada bagian ujungnya ini dipercaya dapat membangkitkan sifat pantang mundur bagi pemiliknya dalam setiap pertempuran.Bila dipercaya terdapat badik yang mengandung kebaikan, demikian pun sebaliknya terdapat badik yang mengandung kesialan. Kawali Lasukku Ja’na adalah badik yang dianggap amat buruk. Bagi siapapun, Kawali Latemmewa merupakan badik yang sangat tidak baik, karena dipercaya badik ini tidak dapat menjaga wibawa dan kehormatan pemiliknya. Menurut kepercayaan, pemilik badik ini tidak akan melakukan perlawanan kendati ditampar oleh orang lain.Sejalan dengan kepercayaan tersebut, terdapat Kawali Lamalomo Malaweng Tappi’enngi yang memiliki motif berupa guratan tanda panah pada bagian pangkalnya. Dipercaya, pemilik badik ini seringkali terlibat dalam perbuatan zina. Badik ini memiliki kepercayaan yang berlawanan dengan Kawali Lamalomo Rialawengeng. Konon kabarnya pemilik badik seperti ini seringkali istrinya melakukan perzinahan dengan lelaki lain.Apapun kekuatan sakti yang dipercaya dikandung oleh sebuah badik, badik tetaplah sebuah benda budaya yang akan meningkatkan identitas diri seseorang, terutama bagi kaum lelaki. Seperti kata orang Makassar mengenai badik “Teyai bura’ne punna tena ammallaki badik” (Bukan seorang lelaki jika tidak memiliki badik), begitupun dengan kata orang Bugis “Taniya ugi narekko de’na punnai kawali" (Bukan seorang Bugis jika tidak memiliki badik).

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Badik

Bugis Perantauan

Kepiawaian suku Bugis dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun hingga malaysia, filipina,brunei, thailand, australia, madagaskar dan afrika selatan. Bahkan, di pinggiran kota cape town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka.

Penyebab Merantau

Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan.

Bugis di Kalimantan Timur

Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian bongaja, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah kesultanan kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.

Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh.

Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan didalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

Bugis di Sumatera dan Semenanjung Malaysia

Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Disini mereka turut terlibat dalam perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor yang merupakan keturunan Makassar.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bugis

Selasa, 15 Maret 2011

Seluk beluk baju bodo

Rasanya banyak yang sudah mengetahui kalau baju bodo adalah baju tradisional daerah Sulawesi Selatan. Tepatnya dari etnis BugisMakassar.

Namun apa yang terlintas dalam pikiran anda tentang arti kata baju bodo? Bukan…bukan… ini bukan karena typo dari bodoh lawannya pintar. Tapi betul-betul baju bodo.

Apa Itu Baju Bodo?

Baju bodo berarti baju pendek (bodo dalam bahasa Bugis Makassarberarti pendek). Tentu saja juga ada baju la’bu yang artinya baju panjang. Kalau baju bodo akan menutup sampai ke pinggul pemakai. Maka baju la’bu menutup hingga paha pemakai.

Baju bodo terbuat dari kain tipis transparan. Potongannya sederhana berbentuk segiempat dan berlengan pendek. Memiliki warna-warna cerah seperti kuning, merah, hijau dan lain-lain.

Dahulu kala, satu warna tertentu hanya bagi satu golongan saja. Misalnya warna cerah merah dan jingga diperuntukkan bagi anak gadis. Warna hijau hanya bisa dikenakan wanita bangsawan.

Sedangkan wanita berstatus janda dicirikan dengan warna baju bodo yang dikenakannya yaitu ungu. Tentu saja, saat ini, tidak ada lagi pembatasan warna seperti itu.

Pernak-pernik Baju Bodo

Baju bodo dikenakan dengan menggunakan bawahan lipa’ sabbe atau sarung sutra. Lipa’ sabbe bermotif kotak-kotak cerah.

Cara memakai baju bodo sangat mudah. Seperti memakai t-shirt saja layaknya. Lipa’ sabbe dipakai seperti memakai sarung. Kadang diperkuat juga dengan tali atau ikat pinggang agar tidak terlepas atau melorot.

Pada bagian pinggang, baju bodo dibiarkan menjuntai menutupi ujung sarung bagian atas. Si pemakai biasanya memegang salah satu ujung baju bodo lalu disampirkan di lengan.

Sebagai asesoris, ditambahkan kalung, gelang panjang, anting, dan bando atau tusuk konde di kepala. Ada pula yang menambahkan bunga cantik sebagai penghias gelungan rambut.

Modernisasi Pada Pemakaian Baju Bodo

Baju ini kerap digunakan dalam acara-acara adat seperti pesta perkawinan. Selain digunakan oleh pengantin, baju bodo juga dikenakan ibu pengantin atau indo bo’ting. Pengiring pengantin atau pa’sappi terdiri dari gadis kecil yang juga mengenakan baju bodo. Begitu pula dengan deretan pagar ayu sebagai penerima tamu.

Selain pada pesta penikahan, baju bodo kerap digunakan saat menaridan menerima tamu kehormatan.

Saat ini baju bodo sudah mengalami banyak modifikasi. Kalau dulu digunakan dengan lipa’ sabbe, sekarang digunakan dengan bawahan kain batik atau songket. Bahkan para remaja memadukan baju bodo dengan celana panjang berpotongan feminim.

Sumber : www.AnneAhira.com

Suku bugis & Adat istiadatnya


Suku Bugis

Bugis merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Penciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga dikategorikan sebagai orang Bugis. Berdasarkan sensus penduduk Indonesia tahun 2000, populasi orang Bugis sebanyak sekitar enam juta jiwa. Kini orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Orang Bugis juga banyak yang merantau ke mancanegara.

Awal Mula

Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam suku-suku Deutero Melayu. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan.
Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi. La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton.

Perkembangan

Dalam perkembangannya, komunitas ini berkembang dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan, bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri. Beberapa kerajaan Bugis klasik antara lain Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar.
Saat ini orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap, Pinrang, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba, Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah Kabupaten Polmas dan Pinrang. Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di Pangkajene Kepulauan)

Masa Kerajaan

Kerajaan Bone
Di daerah Bone terjadi kekacauan selama tujuh generasi, yang kemudian muncul seorang To Manurung yang dikenal Manurungnge ri Matajang. Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal dengan istilah ade pitue. Manurungnge ri Matajang dikenal juga dengan nama Mata Silompoe. Adapun ade' pitue terdiri dari matoa ta, matoa tibojong, matoa tanete riattang, matoa tanete riawang, matoa macege, matoa ponceng. istilah matoa kemudian menjadi arung. setelah Manurungnge ri Matajang, kerajaan Bone dipimpin oleh putranya yaitu La Ummasa' Petta Panre Bessie. Kemudian kemanakan La Ummasa' anak dari adiknya yang menikah raja Palakka lahirlah La Saliyu Kerrempelua. pada masa Arumpone (gelar raja bone) ketiga ini, secara massif Bone semakin memperluas wilayahnya ke utara, selatan dan barat

Kerajaan Makassar
Di abad ke-12, 13, dan 14 berdiri kerajaan Gowa, Soppeng, Bone, dan Wajo, yang diawali dengan krisis sosial, dimana orang saling memangsa laksana ikan. Kerajaan Makassar (Gowa) kemudian mendirikan kerajaan pendamping, yaitu kerajaan Tallo. Tapi dalam perkembangannya kerajaan kembar ini (Gowa & Tallo) kembali menyatu menjadi kerajaan Makassar (Gowa).

Kerajaan Soppeng
Di saat terjadi kekacauan, di Soppeng muncul dua orang To Manurung. Pertama, seorang wanita yang dikenal dengan nama Manurungnge ri Goarie yang kemudian memerintah Soppeng ri Aja. dan kedua, seorang laki-laki yang bernama La Temmamala Manurungnge ri Sekkanyili yang memerintah di Soppeng ri Lau. Akhirnya dua kerajaan kembar ini menjadi Kerajaaan Soppeng.

Kerajaan Wajo
Sementara kerajaan Wajo berasal dari komune-komune dari berbagai arah yang berkumpul di sekitar danau Lampulungeng yang dipimpin seorang yang memiliki kemampuan supranatural yang disebut puangnge ri lampulung. Sepeninggal beliau, komune tersebut berpindah ke Boli yang dipimpin oleh seseorang yang juga memiliki kemampuan supranatural. Datangnya Lapaukke seorang pangeran dari kerajaan Cina (Pammana) beberapa lama setelahnya, kemudian membangun kerajaan Cinnotabi. Selama lima generasi, kerajaan ini bubar dan terbentuk Kerajaan Wajo. Kerajaan pra-wajo yakni Cinnongtabi dipimpin oleh masing-masing : La Paukke Arung Cinnotabi I, We Panangngareng Arung Cinnotabi II, We Tenrisui Arung Cinnotabi III, La Patiroi Arung Cinnotabi IV. setelahnya, kedua putranya menjabat sekaligus sebagai Arung Cinnotabi V yakni La Tenribali dan La Tenritippe. Setelah mengalami masa krisis, sisa-sisa pejabat kerajaan Cinnotabi dan rakyatnya bersepakat memilih La Tenribali sebagai raja mereka dan mendirikan kerajaan baru yaitu Wajo. adapun rajanya bergelar Batara Wajo. Wajo dipimpin oleh, La Tenribali Batara Wajo I (bekas arung cinnotabi V), kemudian La Mataesso Batara Wajo II dan La Pateddungi Batara Wajo III. Pada masanya, terjadi lagi krisis bahkan Batara Wajo III dibunuh. kekosongan kekuasaan menyebabkan lahirnya perjanjian La Paddeppa yang berisi hak-hak kemerdekaan Wajo. setelahnya, gelar raja Wajo bukan lagi Batara Wajo akan tetapi Arung Matowa Wajo hingga meleburnya Wajo pada pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia .

Konflik antar Kerajaan

Pada abad ke-15 ketika kerajaan Gowa dan Bone mulai menguat, dan Soppeng serta Wajo mulai muncul, maka terjadi konflik perbatasan dalam menguasai dominasi politik dan ekonomi antar kerajaan. Kerajaan Bone memperluas wilayahnya sehingga bertemu dengan wilayah Gowa di Bulukumba. Sementara, di utara, Bone bertemu Luwu di Sungai Walennae. Sedang Wajo, perlahan juga melakukan perluasan wilayah. Sementara Soppeng memperluas ke arah barat sampai di Barru.
Perang antara Luwu dan Bone dimenangkan oleh Bone dan merampas payung kerajaan Luwu kemudian mempersaudarakan kerajaan mereka. Sungai Walennae adalah jalur ekonomi dari Danau Tempe dan Danau Sidenreng menuju Teluk Bone. Untuk mempertahankan posisinya, Luwu membangun aliansi dengan Wajo, dengan menyerang beberapa daerah Bone dan Sidenreng. Berikutnya wilayah Luwu semakin tergeser ke utara dan dikuasai Wajo melalui penaklukan ataupun penggabungan. Wajo kemudian bergesek dengan Bone. Invasi Gowa kemudian merebut beberapa daerah Bone serta menaklukkan Wajo dan Soppeng. Untuk menghadapi hegemoni Gowa, Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng membuat aliansi yang disebut "tellumpoccoe".

Penyebaran Islam

Pada awal abad ke-17, datang penyiar agama Islam dari Minangkabau atas perintah Sultan Iskandar Muda dari Aceh. Mereka adalah Abdul Makmur (Datuk ri Bandang) yang mengislamkan Gowa dan Tallo, Suleiman (Datuk Patimang) menyebarkan Islam di Luwu, dan Nurdin Ariyani (Datuk ri Tiro) yang menyiarkan Islam di Bulukumba.

Kolonialisme Belanda

Pertengahan abad ke-17, terjadi persaingan yang tajam antara Gowa dengan VOC hingga terjadi beberapa kali pertempuran. Sementara Arumpone ditahan di Gowa dan mengakibatkan terjadinya perlawanan yang dipimpin La Tenri Tatta Daeng Serang Arung Palakka. Arung Palakka didukung oleh Turatea, kerajaaan kecil Makassar yang berhianat pada kerajaan Gowa. Sementara Sultan Hasanuddin didukung oleh menantunya La Tenri Lai Tosengngeng Arung Matowa Wajo, Maradia Mandar, dan Datu Luwu. Perang yang dahsyat mengakibatkan banyaknya korban di pihak Gowa & sekutunya. Kekalahan ini mengakibatkan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya yang merugikan kerajaan Gowa.
Pernikahan Lapatau dengan putri Datu Luwu, Datu Soppeng, dan Somba Gowa adalah sebuah proses rekonsiliasi atas konflik di jazirah Sulawesi Selatan. Setelah itu tidak adalagi perang yang besar sampai kemudian di tahun 1905-1906 setelah perlawanan Sultan Husain Karaeng Lembang Parang dan La Pawawoi Karaeng Segeri Arumpone dipadamkan, maka masyarakat Makassar dan Bugis baru bisa betul-betul ditaklukkan Belanda. Kosongnya kepemimpinan lokal mengakibatkan Belanda menerbitkan Korte Veklaring, yaitu perjanjian pendek tentang pengangkatan raja sebagai pemulihan kondisi kerajaan yang sempat lowong setelah penaklukan. Kerajaan tidak lagi berdaulat, tapi hanya sekedar perpanjangan tangan kekuasaaan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sampai kemudian muncul Jepang menggeser Belanda hingga berdirinya NKRI.


Adat Istiadat Bugis


Sebagian besar wilayah Asia Tenggara mendapat pengaruh yang kuat dari India. Namun, tidak begitu dengan suku yang menempati wilayah Sulawesi Selatan ini. Suku yang dikenal sangat piawai mengarungi lautan ini awalnya sangat menentang asimilasi budaya luar.

Pengaruh India hanya terdapat dalam tulisan lontara berdasarkan skrip Brahmi. Tulisan lontara ini dibawa ke wilayah Sulawesi melalui jalur dagang oleh para pedagang dari India.

Dalam budaya suku bugis terdapat konsep ade’ atau adat dan konsep spritualitas. Konsep adat menjadi tema utama dalam catatan-catatan mengenai hukum. Bahkan, terdapat dalam sejarah orang Bugis.

Masyarakat tradisional suku Bugis mengacu kepada konseppang’ade’reng atau adat istiadat berupa norma yang saling terkait satu sama lain.

Kehidupan sehari-hari masyarakat Bugis sangat memperhatikan adat - istiadat, misalnya memperhatikan hubungan harmonis antarsesama manusia. Hal-hal tersebut dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengucapkan tabe’ yang artinya permisi.

Ucapan ini dilakukan dengan posisi badan membungkuk setengah badan. Ucapan tabe' dilakukan saat lewat di depan sekelompok orang-orang yang lebih tua. Kemudian, mengucapkan iye’ atau jawaban iya yang halus dan ramah. Selain itu, diajarkan pula untuk menghargai orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda.

Masyarakat Bugis merupakan masyarakat yang sarat dengan prinsip dan nilai-nilai adat dan ajaran agama di dalam menjalankan kehidupan mereka. Mereka yang mampu memegang teguh prinsip-prinsip tersebut adalah cerminan dari seorang manusia Bugis yang dapat memberikan keteladanan dan membawa norma dan aturan sosial.


Masa Kemerdekaan

Para raja-raja di Nusantara mendapat desakan oleh pemerintahan Orde Lama (Soekarno) untuk membubarkan kerajaan mereka dan melebur dalam wadah NKRI. Pada tahun 1950-1960an, Indonesia khususnya Sulawesi Selatan disibukkan dengan pemberontakan. Pemberontakan ini mengakibatkan banyak orang Bugis meninggalkan kampung halamannya. Pada zaman Orde Baru, budaya periferi seperti budaya di Sulawesi benar-benar dipinggirkan sehingga semakin terkikis. Sekarang generasi muda Makassar & Bugis adalah generasi yang lebih banyak mengkonsumsi budaya material sebagai akibat modernisasi, kehilangan jati diri akibat pendidikan pola Orde Baru yang meminggirkan budaya mereka. Seiring dengan arus reformasi, munculah wacana pemekaran. Daerah Mandar membentuk propinsi baru yaitu Sulawesi Barat. Kabupaten Luwu terpecah tiga daerah tingkat dua. Sementara banyak kecamatan dan desa/kelurahan juga dimekarkan. Namun sayangnya tanah tidak bertambah luas, malah semakin sempit akibat bertambahnya populasi dan transmigrasi.

Mata Pencaharian
Karena masyarakat Bugis tersebar di dataran rendah yang subur dan pesisir, maka kebanyakan dari masyarakat Bugis hidup sebagai petani dan nelayan. Mata pencaharian lain yang diminati orang Bugis adalah pedagang. Selain itu masyarakat Bugis juga mengisi birokrasi pemerintahan dan menekuni bidang pendidikan.

Bugis Perantauan
Kepiawaian suku Bugis dalam mengarungi samudra cukup dikenal luas, dan wilayah perantauan mereka pun hingga Malaysia, Filipina, Brunei, Thailand, Australia, Madagaskar dan Afrika Selatan. Bahkan, di pinggiran kota Cape Town, Afrika Selatan terdapat sebuah suburb yang bernama Maccassar, sebagai tanda penduduk setempat mengingat tanah asal nenek moyang mereka.

Penyebab Merantau
Konflik antara kerajaan Bugis dan Makassar serta konflik sesama kerajaan Bugis pada abad ke-16, 17, 18 dan 19, menyebabkan tidak tenangnya daerah Sulawesi Selatan. Hal ini menyebabkan banyaknya orang Bugis bermigrasi terutama di daerah pesisir. Selain itu budaya merantau juga didorong oleh keinginan akan kemerdekaan. Kebahagiaan dalam tradisi Bugis hanya dapat diraih melalui kemerdekaan.

Bugis di Kalimantan Timur
Sebagian orang-orang Bugis Wajo dari kerajaan Gowa yang tidak mau tunduk dan patuh terhadap isi perjanjian Bongaja, mereka tetap meneruskan perjuangan dan perlawanan secara gerilya melawan Belanda dan ada pula yang hijrah ke pulau-pulau lainnya diantaranya ada yang hijrah ke daerah Kesultanan Kutai, yaitu rombongan yang dipimpin oleh Lamohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado yang pertama). Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.
Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha Pertanian, Perikanan dan Perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama didalam menghadapi musuh.
Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan didalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

Bugis di Sumatera dan Semenanjung Malaysia
Setelah dikuasainya kerajaan Gowa oleh VOC pada pertengahan abad ke-17, banyak perantau Melayu dan Minangkabau yang menduduki jabatan di kerajaan Gowa bersama orang Bugis lainnya, ikut serta meninggalkan Sulawesi menuju kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Disini mereka turut terlibat dalam perebutan politik kerajaan-kerajaan Melayu. Hingga saat ini banyak raja-raja di Johor yang merupakan keturunan Bugis.

(Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)